Assalamualaikum sobatku semua....
Kali ini saya akan kilas balik perjalanan kami ke Jepang yang ketiga kali di Musim Panas tapi rasa musim gugur, nah kalau di Lombok seperti yang kami samperin kemarin Kampung Tradisional Desa Senaru Lombok Utara yang masih terjaga keasliannya. Naah kalau di Jepang juga ada tempat yang di jaga keasliannya,  model rumah, suasananya dan masih di huni. Tempat itu bernama Narai Juku.
Sejarah Narai Juku

Pada jaman EDO (1603-1868)
Narai juku merupakan kota kecil, sunyi disebelah barat Tokyo di perfecture Nagano. Kota ini merupakan salah satu jalur utama yang menghubungkan Kyoto dengan Edo (tokyo). 

Narai Juku ini merupakan jalur post / jalur para petinggi dalam melaksanakan suatu urusan, atau rute berkelana dan jalur perdagangan (kiso-ji).

Jalur ini dilestarikan mulai bentuk rumah kayu tradisionalnya yang antik dengan strukture yang tahan lama dimana bangunan-bangunan ini berumur lebih dari 330 tahun tanpa renovasi meskipun daerah ini pernah terkena gempa.

Penginapan kuno tempat para penulis buku atau pejabat menginap masih ada, beberapa sumber mata air di beberapa titik sepanjang jalan juga masih ada, dimana dulunya digunakan para pengelana untuk beristirahat mengambil air minum.

Sejak turun dari kereta di stasiun Narai, atmosphere tempo dulu sangat berasa, seolah-olah kita berada di jaman jepang tempo dulu. Tempatnya sunyi sejuk karena dikelilingi pegunungan.

Stasiun Narai Juku kecil terbuat dari kayu, bentuknya juga masih jaman dulu, tapi sudah diberi sentuhan modern seperti scan tiket ketika kami akan masuk.
         Kursi tunggu di stasiun Narai Juku

Stasiun yang tidak bergitu luas hanya berbentuk kotak di sekat untuk ruang pegawai dan ruang tunggu dengan kursi kayu beberapa buah saja, hiasan dinding yang berisikan foto-foto jaman dahulu.
        Ruang tunggu di stasiun Narai Juku


Begitu keluar dari stasiun langsung jalanan yang tidak begitu lebar, di seberang stasiun tembok tinggi dimana diatasnya terdapat rumah penduduk. Memang di Narai Juku ini  kontur tanahnya perbukitan tak heran jika udaranya sejuk dingin padahal kami ke Narai Juku di musim panas.

Kami berjalan kaki menyusuri kanan kiri rumah kuno yang masih terpelihara dengan baik karena masih berpenghuni. Penghuni rumah di Narai Juku  kebanyakan sudah lanjut usia, kakek nenek hidup dari jualan suvenir atau warung makan atau berkebun.

Narai Juku ini juga terkenal dengan kerajinan tangan dari kayu yang bagus.
                      Stasiun Narai Juku

    Stasiun Narai Juku yang didalamnya terdiri dari ruang loket dan ruang tunggu.

Sepanjang jalan kami bisa melihat peta daerah ini, misalkan mau trekking menyusuri jalur Kiso-ji bisa. Ada beberapa wisatawan yang trekking dari Narai juku ini, pasti banyak ditemui pemandangan yang menyejukkan mata.

                 Peta jalur perdagangan

Narai juku sebuah perkampungan, layaknya perkampungan terdapat kuburan atau makam, klinik kesehatan dan tempat beribadah/shrine.
               Makam alias kuburan

Rumah asli penduduk di gunakan untuk menjual suvenir


                            Restaurant
             Restaurant masih berdiri 



              Peta Narai Juku
                   Tandu jaman kuno
Ini penginapan kuno dahulu sering di gunakan singgah para pedagang.


Sumber air buat minum ini ada beberapa titik

                          Tempat Ibadah



Makam berupa patung untuk mengenang jasa para pahlawan


Narai Juku
Narai, Shiogiri, Nagano 399-6303 
Jepang
Kami ke Narai Juku menggunakan kartu pass JR Matsumoto dimana kartu ini bisa digunakan untuk naik kereta maupun bus untuk wilayah mulai nagoya, matsumoto, tsumago yang satu rute sampai naik gunung tateyama kurobe tercover kartu pass ini.

Nah dua hari sebelum ke Narai Juku kami mampir ke  Gashoo Village (tinggal klik yaa ulasan detil tentang tempat ini), merupakan desa tua juga, rumahnya masih kunoo dengan segala perabot peralatan bertani, berkebun, membatik, menenun dkk.
                           Gassho Village