Followers

Kamis, 12 Agustus 2021

Familytrip sekaligus bisa menghasilkan cuan


Assalamualaikum teman-teman semua, semoga sehat selalu ya.  Kali ini saya akan menulis tentang familytrip ala kami yang sekaligus bisa menghasilkan cuan. Yaa meskipun tidak mengcover semua pengeluaran kami karena kami selalu pergi ber-4 tapi minimal ketutup biaya all in untuk 1 orang. Lagian kami melakukannya tidak "ngoyo" alias fokusnya bukan jualan tapi traveling bonus belanja sampai puluhan juta tapi bukan milik sendiri πŸ˜„.

Travelling itu bagi kami seperti belajar dimana banyak pengalaman yang kami dapatkan, suka (akhirnya menemukan destinasi yang di inginkan setelah kesasar dengan bahasa tarzan), duka (kalau kesasar, kelaparan tapi susah menemukan makanan halal dkk), ilmu (mulai membuat ittinerary, mempelajari transportasi, mempelajari peta, mempelajari kebiasaan masyarakat suatu negara dkk), olah raga (kemana-mana jalan kaki dan naik transportasi umum), dan the power of kepepet.

Kenapa The Power Of kepepet??? 
Kebayang ya kalau nemu tangga yang beginian, gak ada lift dan kami pas bawa koper. Semua sudah punya bagian bawaan masing2, apalagi suami sudah bawa ransel plus koper. Mau gak mau ikut angkut kalau pas turun mah tinggal sereet aja tuh koper, lha kalau pas naik??
Apalagi di paris, bagi teman2 backpaker yang sudah ke paris pasti pernah mengalaminya sampai pada menyebutnya tangga jahanam karena lebih parah dari ini dengan bawa koper πŸ˜€. 

Bersyukurlah di indonesia ada potter di stasiun, di negara orang mana ada?? 
Ini salah satu yang dikangeni dari traveling ke negara orang "geret koperr" duhh jadi kangen ngemper di bandara, geret-geret koper, lari-lari mengejar jadwal kereta 😭😭 semoga pandemi lekas berlaluu.

Nah traveling sekaligus bisa menghasilkan cuan ala kami bukan dengan mengajak orang lain ikut kami atau istilahnya opentrip ya, karena jujur kami lebih nyaman pergi sekeluarga sendiri kalau bareng keluarga lain minimal setype dengan kami karena traveling kalau bukan setype jatuhnya tidak nyaman lho. Tidak nyamannya seperti apa? Misal si A hoby blanja, si B hoby menikmati suasana wisata, si C hoby ngaret segala sesuatu lambat yakin deh ga bakal nyaman. Nah kalau sekelaurga sendiri mau ritme cepat atau lambat tergantung kondisi kami dan tidak ada rasa sungkan.

Berawal dari iseng, pertama kali famtrip kami ke Jepang ketika melihat jam tangan casio di toko kok murah, belum pernik pernik lucu murah iseng foto-foto produk begitu sampai penginapan di share ke sosmed. Alhasil yang order banyaak bahkan sampai hampir 50 pcs pernah ke Jepang lagi orderan jam sampai 80 pcs.

Nah Management waktu kami antara menikmati liburan dengan belanja pesanan bagaimana? karena banyak yang tanya apa ga ribet liburan plus jastip mana bawa anak2, apa bisa menikmati?? 

Kira-kira tips kami seperti ini :

1. Ketika menuju lokasi wisata sesuai itinerary kami, biasanya saya sambil mengamati toko2 yang saya lewati 

2. Kalau ada feeling sepertinya cocok nih di share buat di jual barangnya dan lokasi mudah dijangkau, misalkan kalau lain hari harus kembali lagi untuk belanja, langsung saya foto-foto produknya untuk share Fb, dan ig. Atau cari toko besar yang komplit apa saja ada jadi hemat waktu.

3. Setelah share dagangan biasanya data internet saya mati kan lagi biar tidak boros batre. Kadang foto baru di share ketika sampai di penginapan.

4. Share di sosmed atau beberapa group wa

5. Rekapan orderan biasa saya lakukan di pagi hari sebelum berangkat ke destinasi yang saya tuju hari itu, atau malam hari karena saat di luar penginapan saya offkan data internet. Fokus menikmati perjalanan dan ambil foto. Atau ketika belanja barang yang di mau kosong baru mengaktifkan internet untuk menghubungi customers.

6. Belanja orderan biasanya malam hari ketika mau balik ke penginapan setelah itinerary hari itu selesai 
7. Orderan yang ribet harus mencari-cari biasanya saya cancel karena membuang waktu, kecuali kalau customers langsung memberi tahu lokasinya sepanjang satu rute tersebut terjangkau

8. Ketika saya fokus belanja orderan, suami dan anak2 kadang di foodcourt atau di bagian mainan pernik2 

9. Sesekali Anak bosan wajar yaa, disiasati dengan membelikan yang mereka mau.

10. Itinerary tetep jalan, jualan tetep jalan, liburan keluarga tetep asikk

11. Untuk up harga tidak ada standart baku buat saya, berdasarkan feeling dan effort yang saya butuhkan untuk membeli barang tersebut dan packing di kopernya. Kalau barang besar bikin penuh koper dan berat otomatis fee yang saya ambil besar. Saya suka barang kecil harga murah tapi fee bisa lumayan misalkan jam tangan.
12. Untuk packing kami sebar ada di tas ransel sama koper. Untuk sepatu dusnya kami lipat, sepatu minta di bungkus plastik sama tokonya. 
ini box sepatu di lipat
ini sepatu di bungkus plastik setiap pasangnya.

13. Pembayarannya bagaimana? Saya minta langsung full, masak sih mau nalangi dulu sedangkan budget traveling kami kan terbatas. Setelah barang saya belipun langsung saya fotokan dan masuk koper.

Karena kami perginya sekeluarga dan seringnya maskapai full service di mana bagasi sudah tidak berbayar sehingga urusan bagasi amanlah ya tidak pernah overload padahal kami pernah kewalahan membawa barang eee setelah di timbang masihh sisaa banyak jatah bagasi kami. 
Ini contoh total bagasi kami 42,5 kg kami sudah kewalahan apalagi di Jepang full menggunakan transportasi umum kereta, ada lho teman saya tapi memang dia fokus traveling buat jastip ya jadi berat bagasi sampai 70 kg mana sendirian pula betapa rempongnya. 
Nah teman-teman harus bisa memprediksi kekuatan kita dalam membawa barang belanjaan ketika perjalanan ke bandara ya, beda kalau sudah sampai Indonesia banyak potter yang mau membantu.

Untuk urusan bea cukai kami aman karena perginya berempat dimana setiap orang batas belanja 500 USD kali 4 orang jadi maksimal belanjaan kami anggap saja 2000 USD. Itulah kenapa saya paling suka belanja titipan atau biasa di kenal dengan nama "JASTIP /Jasa Titip" barang kecil-kecil harga tidak mahal tapi secara jumlah bisa banyak. Dari pada barang mahal, ukuran gedhe, secara fee tidak sebanding dengan resikonya seperti tas branded harga puluhan juta resiko bawa harus hati-hati, fee juga tidak bisa gedhe banget, bikin jantungan deh.
Pengalaman kami pernah jastip tas branded harga alamak masih di tawar fee nya akhirnya skipp ogah sayaa πŸ˜„. Saya lebih suka misalkan jam tangan, sepatu, magnet makanan dkk.


“My family my team”

5 komentar:

Mariatanjungmenulis mengatakan...

keren ya mbak Yeni bisa bepergian berempat. Apa kabar aku yg berdua aja udah kewalahan pergi sama suami. Apalagi aku gendut ya jadi gampang lelah

Yustrini mengatakan...

Seru banget bisa travelling sambil terima jastip. Ternyata kalo jastip bayarnya sekalian ya. Jadi nggak takut rugi misal orangnya nggak jadi beli :))

gustiyeni mengatakan...

Jalan santai mbakk mariaaπŸ˜€

gustiyeni mengatakan...

Harus mbaa lhaa kalau belum pada bayar modal dari mana mbaa kan itu orderan bisa sampai puluhan juta

Melina Sekarsari mengatakan...

Ini salah satu kebahagiaan tersendiri saat traveling. Gimana caranya bisa memperoleh pemasukan di tengah-tengah pengeluaran besar karena traveling. Setuju bangeeet. Memang, kudu diperhatikan kemampuan kita membawa barang-barang. Di kita terbiasa nyaman dengan segala macam jasa di sekitar sih ya, jadi kadang merasa harus capek banget buat angkat koper, padahal buat orang di negara lain, itu biasa hahaha.

Paket Komplit Pengalaman Naik Balon Udara Pertama di Indonesia, Rafting, Trekking Air Terjun, Berendam Air Panas Alami, Waterpark Seru, Camping Dan Glamping

Assalamualaikum teman teman semuaa.... Kali ini saya akan menceritakan pengalaman terbaru kami semua serba baruu tapi tidak dengan tempat ya...